Menyoroti 3 Ancaman Fenomena YouTube Shorts pada Anak

Seiring berkembangnya zaman, teknologi juga turut mengalami perkembangan yang pesat. Dari perkembangan teknologi tersebut, muncul berbagai inovasi digital dan perubahan cara bagi masyarakat dalam memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga mengakses sarana hiburan. Salah satu bentuk perkembangan tersebut adalah hadirnya platform video pendek seperti YouTube Shorts. YouTube Shorts memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI ) melalui algoritma rekomendasi untuk menyajikan konten yang sesuai dengan minat penggunanya. Inovasi ini membuat proses konsumsi informasi menjadi lebih mudah, cepat, dan personal.

Gambar by Jetorbit.com
Di tengah perkembangan tersebut, pola konsumsi konten digital pada anak juga turut mengalami perubahan yang signifikan. Sebelumnya, anak-anak lebih sering menonton video YouTube yang berdurasi panjang, seperti kartun. Namun, kini anak-anak lebih banyak yang menyukai menonton YouTube Shorts yang hanya berdurasi beberapa detik. Fitur infinite scroll dan rekomendasi video yang terus diperbarui membuat anak dapat menonton berbagai konten secara terus-menerus dan berkelanjutan tanpa perlu mencari secara manual.
Namun, di balik adanya kemudahan yang ditawarkan, fenomena meningkatnya penggunaan YouTube Shorts pada anak memunculkan banyak kekhawatiran. Durasi video yang singkat dan pergantian konten yang cepat dapat mendorong anak untuk menghabiskan waktu lebih lama di depan layar (screen time). Kemudian, kebiasaan mengonsumsi informasi secara instan juga berpotensi berpengaruh terhadap kemampuan anak dalam mempertahankan fokus anak (attention span) dan mengingat informasi yang diterima.
YouTube Shorts adalah fitur video berdurasi pendek yang dibuat untuk memberikan pengalaman menonton secara cepat dan praktis. Beda halnya dengan video YouTube biasa yang mengharuskan penggunanya memilih konten secara manual, YouTube Shorts memanfaatkan algoritma berbasis AI untuk memberikan rekomendasi video sesuai minat dan kebiasaan masing-masing penggunanya. Algoritma tersebut nantinya akan memahami aktivitas pengguna, seperti video yang ditonton sampai selesai, video yang disukai, dan jenis video yang sering dicari. Semakin sering digunakan, maka akan semakin akurat rekomendasi yang diberikan sehingga pengguna akan didorong terus untuk menonton.
Selain algoritma AI, YouTube Short juga menggunakan fitur infinite scroll, yaitu sistem yang memungkinkan video berikutnya diputar secara otomatis tanpa kita perlu mencari atau memilih terlebih dahulu. Teknologi ini didesain untuk membuat pengguna, termasuk anak-anak, dapat menikmati konten unlimited tanpa batasan waktu. Sehingga, mereka tidak menyadari berapa lamanya waktu yang sudah dihabiskan untuk menonton. Hal tersebut nantinya akan meningkatkan screen time secara signifikan.
Baca juga: Ini Dia Pengertian Algoritma YouTube dan Cara Kerjanya di 2022 Yang Harus Kamu Ketahui!
Dampak YouTube Shorts pada Anak
Meningkatnya screen time adalah salah satu dampak yang sangat terlihat dari penggunaan YouTube Shorts. Banyak anak yang menghabiskan waktu luangnya dengan terus menggulir (scrolling) konten di YouTube Shorts hingga melupakan aktivitas lainnya yang lebih penting, seperti belajar, berolahraga, atau bersosialisasi langsung dengan teman dan keluarga. Jika kebiasaan ini terus dilakukan secara terus-menerus, maka nantinya dapat mengurangi keseimbangan aktivitas sehari-hari yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Selain meningkatnya screen time, pola konsumsi video berdurasi singkat juga mampu memengaruhi kemampuan anak dalam mempertahankan perhatian. anak menjadi terbiasa menerima informasi secara cepat dan berganti-ganti sehingga cenderung sulit berkonsentrasi pada aktivitas yang membutuhkan fokus lebih lama, seperti membaca buku, mengerjakan tugas, atau memahami pembelajaran di kelas. Kondisi ini dikenal sebagai menurunnya attention span atau rentang perhatian, yaitu kemampuan seseorang untuk tetap fokus pada suatu aktivitas dalam jangka waktu tertentu.
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah pengaruhnya terhadap proses pembentukan daya ingat. Dalam proses belajar, otak memerlukan perhatian yang cukup agar informasi dapat diproses dan disimpan ke dalam memori jangka panjang. Namun, ketika anak terus-menerus menerima rangsangan baru setiap beberapa detik, perhatian mereka menjadi mudah teralihkan sehingga proses pengolahan informasi berlangsung kurang optimal. Sehingga, informasi yang didapat lebih mudah terlupakan dibandingkan ketika anak belajar melalui aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih dalam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga menciptakan tantangan baru, terutama bagi anak-anak yang masih di tahap perkembangan. Oleh karena itu, penggunaan YouTube Shorts perlu disertai dengan pengawasan orang tua serta pengaturan waktu penggunaan gawai agar manfaat teknologi dapat dirasakan tanpa harus mengorbankan perkembangan kemampuan fokus, daya ingat, dan kualitas belajar anak.
Dengan demikian, perkembangan teknologi telah mengubah cara anak mengakses hiburan dan informasi, salah satunya melalui YouTube Shorts yang menawarkan video singkat dengan dukungan algoritma berbasis AI. Meskipun memberikan kemudahan dan pengalaman menonton yang menarik, penggunaan YouTube Shorts secara berlebihan dapat meningkatkan screen time, menurunkan kemampuan fokus, serta berpotensi memengaruhi proses pembentukan daya ingat anak. Oleh karena itu, diperlukan peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai, membatasi waktu menonton, dan mengarahkan anak pada konten yang sesuai dengan usianya. Dengan pendampingan yang tepat, kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa menghambat perkembangan kognitif dan kebiasaan belajar anak.
